makna mengangkat anak menurut ajaran moral agama Hindu

anak yang sudah dari kecil di ajari berpakaian adat bali

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam ajaran agama Hindu lapangan kehidupan di bagai menjadi empat yang di sebut dengan catur asrama, yakni brahmacari adalah masa menuntut ilmu, grhasta adalah masa berumah tangga, wana prasta adalah masa memperdalam, menerapkan dan mensosialisasiakan ilmu pengetahuan dan bhisuka adalah masa melakukan tapa brata yoga samadi. Empat tahap kehidupan dalam agama Hindu harus dilalui dalam kehidupan untuk mencapai tujuan hidup yang di sebut kebahagiaan lahir dan batin atau “ moksatham jagadhita ya ca iti dharma”
Dalam masa grhasta seseorang akan mendapat melaksanakan kewajibannya baik secara vertical yaitu melaksanakan hubungan dengan Ida Sang Hyang Widhi Wase mealaui mekasanakan upacara panca yadnya, maupun secara horizontal yakni melakuakan hubungan antara sesama yang diatur dalam ikatan suka duka suatu banjar/desa. Semua hak dan kewajiaban yang dilakukan dalam masa grahasta adalah untuk mendukung proses pencapaian keharmonisan dalam hidup yang dapat dicapai dalam berbagai aspek kehidupan.terwujudnya keluarga yang bahagia dan sejahtra dalam keluarga salah satunya karena hadirnya seorang anak dalam keluarga tersebut. Namaun sebagaia mana ketahui tidak semua keluaraga bisa melahirkan anak, sehinga hal ini sering memicu retaknya perkawinan dalam keluarga.
Dari oenomena yang terjadi, tidak sedikit russaknya rumah tangga akibat mereka tidak mempunyai anak. Demikian apula yang terjadi kasusu pologami banyak diakibatkat oleh tidak tiidak ada kelahiran anak di dalam keluarga tersebut. Penomena yang terjadi ada yang berhasil melahirkan seorang anak dari perkawinana yang kedua namun tidak jarang juga terjadi tidak ada anak yang lahir meskipun sang suami sudah berpologami. Dari penomena tersemut maka salah satu pillihan sebagai solusi, bagi keluarga yang ditimpah musibah tersebut yakni dengan mengangkat anak atau adopsi.

1.2 rumusan masalah
Terkaiat dengan paper ini dengan judul “akna mengangkat anak menurut ajaran agama hindu”maka dapat di rumuskan pokok-pokok masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pengertian anak atau putra
2. Bagaimana tata cara mengangkat anak menurut hokum adapt bali?
3. Bagaimana makna mengangkata anak menurut ajaran agama?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN ANAK/PUTRA
Dalam penomena kehidupan bahwa seorang anak sering disayang-sayang, dipuja-puja bagaikan dewa apalagi anak yang baru berumur lima tahun yang dihiasi dengan berbagai kelucuan dan kenakalan, justru kelucuan dan kenakalannya itu menjadi kebahagiaan bagi kedua arang tuanya. Kebahagiaan orang tua terhadap anak-anaknya tidak terbatas masa kecilnya, kebahagian orng tuanya terhadap anak-anaknya berjalan sepanjang masa dari kecil banga melihat kelucuanya setelah besar bangga melihat kesuksesnya, bahakan anak yang suputra akan dapat menghantarkan Roh oranng tuanyasamapai ke surga. Penomena memerlukan anak disayang-sayang dipuja, terkaiat dengan pengertian dari kata anak, menurut Titib(2001).
Kata anak dalam sansekerta di sebut putra. Kata putra semula berarti kecil atau yang di sayang. Menurut Titib(2001) mengatakan putra juga sama artinya dengan “sunu,atmaja, atmansambhaya, nandana, kumura dan samtana” . kata samtama ini lah yang di bali menjadi sentana yang berarti keturunan.
Dimana peran ibu tidak kalah pentingnya dalam melahirkan anak yang suputra karena dalam kitab suci agama hindu dikatakan melahirkan seornag anak suputra jauh mlebih besar nilaianya dari seribu yadnya karena anak yang suputra akan dapat memimpin, membahagiakan dan menyelamatkan orang banyak, uamat dan bangsa. Sebagai seorng ibu sebagai pendidik yang utama dan pertama sejak didi harus menanamkan nilai-nilai agama dalam mendidik anak agar menjadi anak yang suputra dapat mengabdi pada masyarakat dan bangsa. Kelahiran putra suputra ini merupakan tujuan ideal dari setiap perkawinan.
Seperti yang telah dipaparkan diatas bahwa mempunyai anak, lebih-lebih lahirya putra yang suputra dambaan setiap keluarga. Setiap suami istri mengaharapakan kelahiran seornag anak dari rahimnya sendiri namun semua berhasil seperti yang didambakan. Keluarga yang tidak mempunyai anak menurut Titib (1995) disebut Aputra, Niputrika dan Nirsamtana namun yang mereka tidak mempunyai anak dari rahim sendiri tidaklah berarti tertutup jalan untuk mencapa kebahagiaan yang sejati. Mereka dapat mengangkat anak(adopsi) yang didalam bahasa sanskerta disebut prigraha atau putrika sedangkan anak yang di angkat di sebut krtakaputra, datrimasuta atau putra dattaka.
Yang perlu dipahamai dan diyakini adalah bahwa baiak anaka kandung maupun anak angkat sesunguhnya memiliki kedududkan yang sama dalam segala hal. Hal ini tercemin dalam kekawin nitisastra bahwa yang dibisa di sebut anak adalah anak kandung (lahit dari hasil perkawinan), anak yang lahir dari pendididkan kesucian, anak yang di tolong jiwanya saat menemui jiwanya, anak yang dipelihara, diberi makan selama hidup.
Dengan mengacu pada bunyi kekawin nitisastra tersebut dan terkait dengan tema paper ini yang bisa di tafsirkan sebagai anak angkat adalah anak yang seorang bapak diberimakan selama hidupnya dengan tiada mengharapkan balasan apa-apa.

2.2 Tata Cara Mengangkat Anak
Menurut Dyatmikawati (2008) di Bali ada beberapa istilah untuk menyebut mengangkat anak yaitu antaralain: ngidih pianak, nyentanayang, mgedeng/ngengge pianak, angkat anak dan meras pianak. Sedangakan anak yang diangkat itu disebut sentana, anak ban ngidih, anak sumendi, anak pupon-pupon dan sentana peperasan. Ada pun syarat-syarat pengangkatan anak menurut hokum nasional (sebagai perbandingan) yaitu ternuat dalam Kemutusan Mentri Sosial RI no.41/HUK/KEP/VII/1984 tentang petunjuk pelaksanakan perizinan mengangkat anak.
Sedangkan menurut hokum adat Bali tadak ada peraturan kapan dan umur berapa anak boleh diangkat. Secara sederhana proses pengangkatan anak menurut Dyatmikawati( 2008) dapat di gamabarkan sebagai berikut:
1) Dimulai dari rembug keluarga kecil (pasutri yang akan mengangkata anak). Kemudian diajaukan dengan rembug keluarga yang lebih luas meliputi saudara kandung yang laianya.setelah ada kesepakatan matang, lalau mengadakan pendekatan dengan orng tua ataukeluarga yang anakanya yang mau diangkat.
2) Setlah semua jalan lancara dilanjutkan dengan pengumuman(pasobyahan) dalam rapat desa atau banjar. Tujuanya, untuk memastikan tidak ada angota keluarga laianya dan warga desa atau banjar yang keberatan atas pengangkatan anak yang diamksud. Oleh karena itu, anak angkat harus dihusahakan dari lingkungan keluarga yang terdekat, garis purusa, yang merupakan pasidikarya. Ada tiga golongan pasidikarya yaitu pasidikarya waris (mempunyai hubungan saliang waris), pasidikarya sumbah ( pempunyai hubungan salaing menyembah leleuhur), dan pasidikarya idih pakidih ( mempunyai hubungan perkawinan).
3) Apabila tidak ada garis dari garis purusa, maka dapat dicarai dari keluarga menurut garis pradana (garis ibu). Apa bila tidak ditemuakn pula maka dapat dihusahakan dari keluarga lain dalam satu soroh dan terakhir sama sekali tidak ada pengangkatan anak dapat dilakukan walaupun tidak ada hubungan keluarga (sekama-kama).
4) Anak yang diangkat wajib beragama Hindu. Jika yang diangkat seseorng yang bukan umat Hindu, pengangkatan anak itu akan ditolak warga desa karena tujuan pengangkatan anak antara laian untuk meneruskan warisan baik dalam bentuk kewajiaban maupun hak, termasuk berbagai kewajiaban desa adat, terutama dalam hubungan dengan tempat suci (pura).
5) Melakuakan upacara pemerasan yang disaksiakan keluarga dan prangkat pemimpin desa atau banjar adat. Pengangkatan anak baru di pandang sah sesudah dilakauakan upacara pemerasan. Itulah sebabnya anak angkat itu disebut pula dengan istilah sentana paperasan.
6) Selain melakukan upacara pemerasan proses berikutnya adalah pembuatan surat sentana. Walau[un hal ini tidak merupakan syarat bagi sahnya pengangkatan anak, tetapi hal ini penting dilakuakn sebagai alat bukti bahwa telah terjadi pengangkatan anak. Menurut hokum pusitif pengangkatan anak dilakukan dengan penetapan hakim. Dengan demikian sesudah uapacar pemerasan, patut dilanjutkan denganmengajukan pemohonan penetapan pengangkatan anak kepada Pengadilan Negeri dalam daerah hokum tempat pengangkatan anak itu dilaksanakan.
Menurut Dyatmikawati jika pasangan suami istri adalah orang Bali yang beragama Hindu, maka proses pengangkatan anak patut mengikuti ketentuan hokum adat Bali, awig-awig yang berlaku di desanya dan juga harus mengikuti tata cara pengangkatan anak sebagaimana ditentukan berdasarkan aturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Dengan adanya proses pengangkatan anak yang sesuai dengan hokum yang berlaku (baik hukum adat maupun hokum nasional), maka anak itu akan memiliki kedudukan huukum persisi seperti anak kandung.
Dalam hukum Hindu sudah ditegaskan bahwa kedudukan anak angkat tidak berbeda dengan anak kandung. Hal ini dapat dilihat dalam Manawadharmasastra IX.141 sebagai berikut:
Jika anak laki yang mempunyai anak angkat laki-laki yang mempunyai sifat-sifat mulia yang sama akan mewarisi walupun lahir dari keluarg ayang lain ( Puja dan Tjokorda Rai sudharta, 1973:554-565).
Kemudian dalam Manawadharmasastra IX.142 menyakan keluarga dan harta warisan dari orang tua yang sebenarnya. Tarpana (upacara persenmbahan kepada kepada orang tua yang meningal), ia arus mengikuti nama keluarga (yang mengangkat) serta menerima warisan dari orang tua angkat (setelah tarpana kepadanya), (Puja dan Tjokorda Rai sudharta,1973:565)
2.3 Makna Mengangkat Anak Menurut Ajaran Agama Hindu
Sebagaimana disebutkan, bahwa salah satu tujuan perkawian dilingkungan umat Hindu di bali adalah untuk mendapat keturunan denganmaksud dengan untuk meneruskan warisan orang tua atau keluarganya. Dalam Hukum adat Bali yang dijiwai oleh ajaran Hindu adalah sebagai kewajiban (swadharma) dan hak, baik dengan hubungan dengan parahyangan, pawongan maupun palemahan.
Jika kedududkan anak angkat sama dengan anak kandung, kehadiran seseorng anak dalam keluargha memiliki makna yang sama dengan anak akandung. Ada pun beberapa makna yang dapat dikemukakan dalam pengangkatan anak adalah:
a) Meneruskan warisan, Menurut ajaran agama Hindu yang tercemin dalam hukum adat Bali bahwa yang dimaksud dengan warisan adalah segala kewajiaban(swadharma) dan hak, baik dalam hubungannya dengan parahyanagan, pawongan maupun palemahan. Dengan demikian, anak angkat tidak saja berhak mewarisi harta benda orang tua angkatnya, tetapi juga memiliki kewajiban seorng anak yang sama dengan anak kandung. Kewajiaban itu misalnya memelihara merajan dan tempat suci lainya warisan aornag tua angkatnya termasuk melakuakan persembahan roh leluhur orang tua angkatnya (parahyangan), mensuciakn orang tua angkatanya atau roh leluhurnya (upacara ngaben), melaksanakan kewajiaban dengan angota keluarga yang laian dan dalam kaitanya dengan sesoroh, banjar (pawongan) dan memelihara rumah, lingkungan milik orang tua nagkatnya (palemahan).
b) Menyelamatkan roh leluhur, Dengan adanya anak angkat maka sebuah keluaraga tidak mengalami puntung atau putus. Dalam kepercayaan Hindu, keturunna yang berlanjut ini dapat menyelamatkan roh leluhur. Dalam adi parwa menyebutkan tenteng pentingya keturunan untuk menyelamatkan roh leluhur. Dalam Adiparwa disebutkan tentang pentingnya keturunan untuk menyelamatkat roh leluhur. Betapa pentingnya kehadiran seorang anak dalam keluarga sebagai pelanjut keturunan dan dapat menyelamatkan roh leluhur dari neraka. Dalam Manawadharmasastra IX.138 menyebutkan karena anak laki-laki akan mengantarkan pitara dari neraka yang disebut put, karena itu iad di sebut putra dengan kelahirannya sendiri(Puja dan Tjokorda Rai sudharta,1973:564). Sedangkan dalam Adiparwa, 74,38 disebutkanseseorng dapat menundukan dunia dengan lahirnya anak ia memeper oleh kesenagan yang abadi, memperoleh cucu-cucu dan kakek-kekek akan memeperoleh kebahagiaan yang abadi dengan kelahiran cucu-cucunya.
c) Pengingkat tali kasih keluarga, kelairan seorang anak/anak angkat dalam keluarga dapat sebagai pengingkat tali kasih dalam keluarga hal ini diungkapakan dalam sastra hindu, yakni dalam Adiparwa yang di sebutkan seorang anak merupakan pengikat tali kasih yang sangat kuat dalam keluarga, ia merupakan pusat penyatunya cinta kasih orngtuanya. Dalam ajaran agama Hindu dapat dikatakan kehadiran seorag anak/anak angkat sebagai penjain cinta kasih dalam kelurga. Penomena yang ada betapa pun kemulut yang terjadi antaraa orang tua dan anak akan selalu damai dalam pelukan orang tua, anak juga akan menjadi pelekat diantara kemulut orang tau. Anak juga dapat menciptakan kedamian dalam keluarga disamping orang suci dan seorng istri. Dengan melihat begitu pentngya peranan anak dalam kelurag ayang perlu di simak seagi seorang anak adalah menyucikan dan mengagungkan tugas-tugas dan fungsi-fungsi yang melakat pada anak sesuai dengan sastra-sastra Hindu dengan berlaku sebagai anak yang suputra.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s